oleh

Tembakau Utara Brantas Jombang  Bernilai Ekonomis Fantastis, Libatkan Ribuan Petani

Jatimkita.com – Jombang, Sektor pertanian tembakau di kawasan Utara Brantas, Kabupaten Jombang, memiliki potensi ekonomi yang cukup luar biasa.

Nilai ekonomi dari hasil panen tembakau daun basah di lima kecamatan kawasan tersebut diperkirakan mencapai hampir Rp 487 miliar.

banner 2048X824

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Ir. Much. Rony, M.M., mengatakan potensi tersebut dihitung berdasarkan luas lahan sekitar 6.500 Ha, dengan asumsi produktivitas terendah 15 ton daun basah per hektare dan harga Rp5.000 per kilogram.

“Dengan luas lahan tanaman tembakau mencapai 6.500 Ha dan asumsi produktivitas terendah 15 ton per hektare serta harga daun basah Rp5.000 per kg, nilai ekonomi yang dihasilkan mencapai hampir Rp 487 miliar. Potensi besar ini melibatkan kurang lebih 15.000 petani lokal,” katanya.

Lahan tembakau tersebut tersebar di lima kecamatan wilayah Utara Brantas. Kecamatan Kabuh menjadi wilayah dengan areal terluas, yakni sekitar 2.633 hektare, disusul Ploso 1.340 hektare dan Plandaan 1.172 hektare. Sementara sisanya berada di Kecamatan Ngusikan dan Kudu.

Hingga akhir musim tanam, realisasi panen telah mencapai sekitar 5.198 hektare atau 85,75 persen dari total luas lahan.

Menurut M Rony, potensi ekonomi tembakau tidak hanya memberikan pendapatan bagi petani, tetapi juga memiliki kaitan dengan ketahanan pangan keluarga di kawasan Utara Brantas.

Hal ini tidak terlepas dari pola tanam yang diterapkan petani, Dengan melakukan rotasi antara tanaman padi dan tembakau.

“Petani di Utara Brantas memiliki tradisi menyimpan hasil panen padinya untuk kebutuhan sendiri dan tidak langsung menjualnya. Kebutuhan operasional sehari-hari ditopang dari hasil panen tembakau,” ungkapnya.

Menurutnya, pola tersebut dinilai membantu menjaga ketahanan pangan keluarga petani sekaligus mendukung pengendalian inflasi daerah.

Di sisi lain, Jombang juga memiliki tiga varietas unggulan tembakau lokal yang telah terdaftar dan dirilis oleh Kementerian Pertanian RI. Ketiganya yakni Janten Pakpi 1, Janten Pakpi 2, dan Manilou.

Kemampuan petani di Kabupaten Jombang dalam mengembangkan komoditas tembakau juga terus meningkat. Saat ini, petani tembakau Jombang telah mampu memproduksi sekaligus melakukan sertifikasi benih secara mandiri.

Benih tembakau diwilayah Utara brantas Jombang tersebut bahkan telah diminati oleh daerah lain, di antaranya Kabupaten Gresik dan Blitar.

Untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas budidaya, Pemerintah Kabupaten Jombang memberikan dukungan sarana dan prasarana pertanian melalui alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

Bantuan tersebut antara lain berupa 350 ton pupuk NPK khusus tembakau yang diperuntukkan bagi sekitar 15 ribu petani.

Selain pupuk, Pemkab Jombang juga menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian berupa 19 unit mesin rajang tembakau, empat unit hand tractor, serta tiga unit kendaraan angkut roda tiga.

“Pendampingan teknis dan pelatihan budidaya dari hulu hingga hilir juga terus dilakukan. Materi pendampingan mencakup teknik budidaya, hingga pengendalian hama dan penyakit tanaman yang dilakukan bekerja sama dengan Balai Besar Proteksi Surabaya,”ungkap Much. Rony.

Dinas Pertanian Jombang juga memberikan perhatian terhadap regenerasi petani dengan melibatkan generasi muda dalam berbagai pelatihan. Program tersebut dilaksanakan melalui kerja sama dengan Balai Penelitian Tembakau Malang dan Jember.

Much. Rony menuturkan, bagi masyarakat di kawasan Utara Brantas, tembakau tidak hanya menjadi komoditas pertanian, tetapi telah menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, tuturnya.

“Bagi masyarakat Utara Brantas, menanam tembakau bukan lagi sekadar kegiatan pertanian, melainkan sudah menjadi bagian dari tradisi dan kebudayaan. Semangat ini yang terus kami dorong agar sektor tembakau semakin maju, berdaya saing, dan menyejahterakan masyarakat,”tuturnya.

Komoditas tembakau masih menjadi salah satu sektor perkebunan yang memiliki potensi ekonomi besar bagi masyarakat Kabupaten Jombang.

Hingga Bulan September 2026, luas tanam tembakau di Jombang tercatat mencapai sekitar 6.508,7 Ha.

Bupati Warsubi mengatakan, tembakau telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, khususnya di kawasan utara Sungai Brantas yang meliputi Kecamatan Ploso, Kudu, Plandaan, Ngusikan, dan Kabuh, Katanya. Pada Rabu pagi (7/10/2026).

“Bagi sebagian petani, tembakau telah menjadi pilihan utama dalam pola tanam setelah padi. Semangat para petani di kawasan ini tercermin dari ungkapan yang sudah sangat dikenal, ‘mati urip nandur mbako’, yang telah berlangsung dari generasi ke generasi,”.

Menurutnya, berdasarkan data hingga akhir September 2026, produktivitas daun basah tembakau di Jombang berada pada kisaran 15 sampai 17 ton per hektare.

Potensi tersebut, Lanjut Warsubi, perlu dikelola secara berkelanjutan mulai dari proses budidaya, pengolahan, hingga pemasaran agar mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi petani, Saat menghadiri kegiatan Pembinaan Panen dan Pascapanen Tembakau dalam rangka Panen Raya Tembakau Tahun 2026 di Desa Bawangan, Kecamatan Ploso,

Pemerintah Kabupaten Jombang, terus memberikan dukungan terhadap sektor tembakau. Melalui APBD 2026, Pemkab Jombang mengalokasikan sejumlah sarana dan prasarana budidaya, antara lain hand tractor rotary, 350 Ton pupuk NPK tembakau, serta 19 unit mesin alat rajang.

Dukungan juga diberikan melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Program tersebut mencakup pelatihan budidaya hingga pascapanen, demplot pembenihan dan varietas unggul tembakau, pengembangan kemitraan, serta peningkatan kapasitas petani.

Pemkab Jombang juga mendorong ketersediaan benih unggul dan bersertifikat melalui penangkar benih tembakau yang telah mendapatkan rekomendasi sebagai produsen benih, imbuh Warsubi.

“Dengan dukungan ini, kita berharap produksi, produktivitas, dan kualitas tembakau Jombang semakin baik,”.

Namun, peningkatan produksi menurutnya harus diikuti dengan penguatan sektor pemasaran dan kemitraan. Tembakau Jombang dinilai memiliki karakter dan cita rasa khas serta telah diterima di berbagai daerah.

Karena itu, Warsubi mendorong hubungan antara petani dengan pabrikan maupun pembeli atau buyer dibangun melalui kemitraan yang sehat dan saling menguntungkan.

“Petani membutuhkan kepastian pasar dan harga yang wajar, sementara pihak pembeli membutuhkan tembakau dengan kualitas dan kontinuitas yang terjaga. Keduanya harus dipertemukan melalui kemitraan yang terbuka, adil, dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak,” tegasnya.

Ke depan, pengembangan tembakau di Jombang akan diarahkan pada penguatan agribisnis dan agroindustri. Kapasitas petani dinilai perlu terus ditingkatkan agar mampu melakukan efisiensi usaha tani, menjaga mutu, mengembangkan inovasi, sekaligus memperluas jaringan pemasaran.

Warsubi juga menekankan pentingnya regenerasi petani. Generasi muda dan petani milenial diharapkan semakin tertarik melihat sektor pertanian sebagai bidang usaha yang memiliki prospek masa depan.

“Panen raya yang kita laksanakan hari ini saya harapkan bisa menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memperkuat komoditas tembakau Jombang,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Jombang juga menyampaikan apresiasi kepada para petani tembakau, penyuluh pertanian, pelaku usaha, pabrikan, serta seluruh pihak yang selama ini mendukung pengembangan komoditas tembakau di Kabupaten Jombang.

Ia berharap kerja sama seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat agar tembakau Jombang semakin dikenal, memiliki daya saing, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.(WAG)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *