oleh

Pukesmas Mojowarno Bentuk KP ASI, Dan YUKENSI, Dorong Keluarga Serta Masyarakat Dukung Ibu Menyusui

Jatimkita.com – Jombang,  Keberhasilan seorang ibu memberikan Air Susu Ibu (ASI) tidak hanya bergantung pada kemauan dan kondisi sang ibu. Dukungan semua pihak baik masyarakat dilingkungannya, Nakes, Kader kesehatan, Kelompok Sebaya, dan Dukungan keluarga, terutama suami hingga kakek dan nenek, turut menjadi faktor penting agar ibu dapat menyusui bayinya secara optimal.

Kesadaran itulah yang mendorong Puskesmas Mojowarno, Jombang, membentuk Kelompok Pendukung ASI dan Paguyuban Kakek-Nenek ASI yang berkolaborasi dengan KEMPING ASIK ( Kader PKK pendamping ASI ekslusif) dan SITI ASIK (Lansia Motivator ASI eksklusif) dalam rangka memperingati Pekan ASI Sedunia tahun 2026.

banner 2048X824

Sri Wahyuningsih Kepala Puskesmas Mojowarno mengatakan, pembentukan kelompok tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat dukungan terhadap ibu menyusui di tingkat keluarga dan masyarakat.

“Karena keluarga itu sangat memengaruhi keberhasilan pemberian ASI. Jadi kami membentuk kelompok ASI dan paguyuban kakek-nenek ASI,” ujarnya.

Menurut dia, lingkungan keluarga memiliki peran besar dalam menentukan keberhasilan ibu memberikan ASI kepada bayinya. Karena itu, kakek dan nenek juga perlu mendapatkan edukasi agar dapat menjadi pendukung bagi ibu menyusui.

Puskesmas Mojowarno juga memiliki program kader PKK pendamping ASI eksklusif. Para kader tersebut nantinya akan berkolaborasi dengan kelompok pendukung ASI, paguyuban kakek-nenek, serta para motivator ASI Eksklusif.

Kolaborasi itu diharapkan dapat memperkuat berbagai kegiatan yang sudah berjalan di tingkat desa.

“Tujuannya supaya kegiatan yang sudah ada di desa bisa disempurnakan. Harapannya tidak ada lagi stunting dan Gizi Buruk, kemudian ibu yang menyusui dan anaknya sama-sama sehat,” katanya.

Selain berdampak terhadap kesehatan bayi, pemberian ASI juga dinilai memberikan manfaat bagi kondisi ekonomi keluarga. Karena dengan berhasil memberikan ASI uangnya bisa untuk pemenuhan kebutuhan lainnya.

Ibu yang berhasil memberikan ASI kepada bayinya selama masa menyusui tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli susu formula.

Terlebih bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, ASI menjadi pilihan yang tidak hanya sehat, tetapi juga membantu mengurangi beban pengeluaran rumah tangga.

“Kalau berhasil menyusui, uangnya tidak terpakai untuk membeli susu formula. Jadi ini juga penguatan ekonomi keluarga, terutama bagi ibu atau suami yang penghasilannya minim,” ujarnya.

Ia menambahkan, ASI merupakan asupan yang sangat penting bagi bayi. Proses menyusui juga dapat memperkuat ikatan emosional antara ibu dan bayi.

“ASI itu anugerah terindah. Menyusui juga menjadi bonding, ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi,” katanya.

Upaya mendukung keberhasilan pemberian ASI juga dilakukan Puskesmas Mojowarno melalui inovasi PUSAKA IBU (Puskesmas Sayang Anak dan Ibu).

Melalui inovasi tersebut, ibu yang melahirkan di Puskesmas Mojowarno mendapatkan pendampingan agar dapat segera menyusui bayinya.

Salah satu hal yang diajarkan adalah posisi dan pelekatan menyusui yang tepat. Ibu diberikan pilihan posisi menyusui, mulai dari sambil duduk, bersandar hingga berbaring.

Hal tersebut dilakukan agar ibu merasa nyaman dan tidak mudah lelah selama menyusui.

“Kalau posisi dan pelekatannya betul, ibu akan merasa nyaman. Dengan begitu ASI bisa keluar lebih banyak dan kendala dalam pemberian ASI bisa diminimalkan,” jelasnya.

Dengan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan menyusui sampai anak usia 2 tahun bersama MPASI ( Makanan Pendamping ASI) mencetak generasi penerus bangsa yang Sehat, cerdas dan Berprestasi.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dr. Fitrijah, mengatakan pembentukan Kelompok Pendukung ASI dan Paguyuban Kakek-Nenek ASI di Puskesmas Mojowarno merupakan langkah untuk memperkuat pemberian ASI eksklusif di wilayah tersebut.

Menurutnya, bayi perlu mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan tanpa tambahan makanan maupun minuman lain.

Setelah berusia enam bulan, pemberian ASI tetap dilanjutkan hingga anak berusia dua tahun dengan disertai makanan pendamping ASI (MPASI) yang sesuai dengan kebutuhan dan usia anak.

“Jadi kegiatan ini dilakukan supaya pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Mojowarno bisa maksimal,” ujar Fitrijah

Ia menilai keterlibatan kakek dan nenek menjadi penting karena mereka merupakan bagian dari keluarga yang sehari-hari dapat memberikan dukungan maupun motivasi kepada ibu menyusui.

Selain keluarga, kader PKK, pendamping ASI eksklusif, serta berbagai pemangku kepentingan juga perlu terlibat dalam upaya tersebut.

Fitrijah berharap kegiatan pendampingan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial dalam memperingati Pekan ASI Sedunia. Menurutnya, edukasi dan pendampingan harus terus dilakukan di tingkat desa maupun wilayah kerja puskesmas.

“Supaya seluruh ibu yang saat ini hamil maupun memiliki bayi bisa memberikan ASI eksklusif dan mengetahui manfaatnya,” katanya.

Pemberian ASI eksklusif, lanjut dia, menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kesehatan bayi, mencegah stunting, sekaligus mendukung tumbuh kembang anak.

Dengan dukungan yang datang dari keluarga hingga lingkungan sekitar, diharapkan semakin banyak ibu di wilayah Mojowarno yang percaya diri menyusui bayinya.

Pada akhirnya, keberhasilan menyusui bukan hanya menjadi perjuangan seorang ibu, melainkan menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan anak-anak tumbuh sehat dan menjadi generasi yang kuat.(WAG)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *